kami tutup

GIANT DITUTUP, HERO GROUP UBAH STRATEGI BISNIS?

Tiga sampai empat tahun terakhir disrupsi di dunia digital semakin mengganas menggerogoti ritel konvensional/gerai di seluruh wilayah Indonesia. Gerai-gerai ritel berjuang melawan gempuran ritel-ritel online yang kebanyakan investornya berasal dari luar negeri. Tidak hanya melawan terjangan ritel online yang berwujud e-commerce dan marketplace, ritel gerai pun bertambah rivalnya dengan adanya perubahan kebiasaan konsumen yang mulai malas pergi ke gerai dan mal-mal yang ada.

Hantaman terhadap ritel gerai tidak berhenti di situ saja, ditambah lagi gelombang covid-19 yang masuk ke Indonesia per awal 2020 semakin menambah pukulan telak bagi pelaku gerai ritel konvensional. Ibaratnya sudah babak belur, ditambah bonyok lagi terkena pukulan bertubi-tubi. Selama badai covid-19 melanda akhirnya banyak ritel-ritel lokal Indonesia yang bertumbangan dan menutup gerainya yang ada di Indonesia seperti Ramayana, Matahari, Centro dan banyak brand ritel lainnya. Pukulan terhadap gerai ritel pun ikut menghajar Giant Hypermarket yang merupakan anak perusahaan dari Hero Supermarket. Giant per bulan Juli 2021 sebelum akhirnya menutup semua gerainya di Indonesia mencatatkan kerugian total Rp 500 milyar lebih (per 30 Juni 2021).

Menurut Dirut PT Hero Supermarket Tbk Patrik Lindvall keputusan menutup Giant ini dikarenakan akan semakin berat perjalanan bisnis holding hingga bisa menurunkan kinerja keuangan perusahaan. Patrik menyampaikan bahwa mereka akan fokus membesarkan brand Ikea, Guardian, dan Hero Supermarket yang sudah lebih dulu berkecimpung di market Indonesia. Dia menambahkan bahwa prospek model bisnis yang akan diusung Ikea, Guardian dan Hero Supermarket lebih berpeluang akan berkembang besar mengambil hati konsumen Indonesia. Langkah awal PT Hero Supermarket Tbk adalah mereka akan membuka 5 gerai baru Ikea untuk menjalankan strategi bisnis mereka.

Melihat pergerakan strategi bisnis Hero Group ini, menurut saya selain berfokus pada tiga brand ritel tadi, sebaiknya mereka mulai mengakomodir kebiasaan baru konsumen ritel Indonesia yang mulai malas datang ke gerai kecuali ada pengalaman unik yang ditawarkan oleh brand ritel tersebut. Atau bisa juga menggencarkan sensasi belanja online lewat smartphone yang bisa dijadikan salah satu strategi untuk menjangkau target konsumen mereka. Selain ini bisa juga menggunakan blended strategy yang sekarang sedang mulai tren juga yaitu OMNI Channel, yaitu pengalaman berbelanja lewat aplikasi dan konsumen ini datang ke gerai hanya tinggal mengambil barang yang siap angkut. Atau ritel tersebut menyiapkan drop point untuk memudahkan konsumen mengambil barangnya. Hero Group harus terus update mengamati kebiasaan konsumen di era wabah covid ditambah disrupsi ini, karena dari transaksi konsumenlah revenue perusahaan akan bisa terus naik. Tanpa konsumen yang beli, secanggih dan sekeren apapun produk hingga promosi yang kita lakukan, maka semuanya itu akan menjadi kesia-siaan. Bagaimana dapat pelajaran baru dari tulisan ini?

 

Dapatkan buku Find The Amazing You dengan klik link ini : Klik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top