KESERAKAHAN DI BALIK MERGERNYA GOTO (GOJEK TOKOPEDIA)

Belum lama kita semua telah membaca berita tentang mergernya dua raksasa bisnis di dunia digital. Yang satu merajai transportasi online, yang satu merajai e-commerce, keduanya raksasa di bidangnya. Jika dilihat dari berita yang bersliweran di dunia internet, mergernya dua raksasa ini tidak lepas dari menaikan valuasi perusahaan, perputaran uang di ekosistem mereka dan satu lagi Big Data.

Saya coba menyoroti target besar kedua raksasa ini melakukan merger, yaitu valuasi perusahaan. Seperti kita ketahui, salah satu target pengusaha dalam ekosistem Bisnis Kapitalis adalah valuasi perusahaan mereka akan semakin bagus sehingga akan semakin berharga sahamnya di lantai bursa. Dan yang Namanya valuasi biasanya hanya di atas kertas, juga goreng-menggoreng nilai saham untuk kepentingan pemegang modal.

Target mereka berikutnya yang coba saya soroti adalah semakin gencarnya mereka akan menjaga perputaran uang di dua kolam besar yang mereka akan gabungkan. Uang masuk dan berputar akan dijaga di ekosistem mereka saja. Seperti kita sudah ketahui bahwa di Gojek maupun Tokopedia sudah punya banyak pintu masuk uang mulai dari gopaynya, driver gojek itu sendiri, gosend hingga ekosistem e-commerce Tokopedia yang sudah lama mereka bangun.

Target mereka yang saya soroti terakhir adalah perihal Big Data yang ini ending dari segala ending bisnis mereka alias core of the corenya model bisnis mereka berdua. Sudah santa jelas, data yang akan terhimpun dari “keroyokan” mereka berdua akan semakin mengokohkan hegemoni Big Data dalam kerajaan mereka.

Dari fenomena mergernya dua raksasa ini menurut pandangan saya ya itulah bentuk keserakahan dari pelaku bisnis dalam dunia Kapitalistik yang secara langsung lama kelamaan akan menggerogoti pelaku UKM yang kebanyakan mereka baru saja merangkak dalam ekosistem bisnis. Dua raksasa ini hendak melakukan monopoli terhadap pasar transportasi online bergabung dengan dunia e-commerce.

Sebagai pelaku usaha di pasar muslim, kita tidak boleh berdiam diri dari bergabungnya dua raksasa ini. Kita sebagai bagian dari ummat yang mengelola bisnis di sektor masing-masing harus semakin merapatkan barisan dan menghidupkan ekosistem bisnis keumatan. Di mana pondasi berpikir dan spirit yang kita bangun adalah bahwa bisnis yang kita buat ini semata-mata kontribusi untuk ummat, karena semua sumber daya yang ada berasal dari ummat.

Jadikan ekosistem ummat dari lintas konsumen sebagai kolam market yang bisa digabungkan kekuatannya. Bayangkan saja jika 200 juta lebih muslim di Indonesia kita hanya garap 10% (+/- 20 juta potensi konsumen muslim) yang ada dengan menggabungkan kekuatan beberapa entitas pengusaha muslim tentu saja akan menjadi sebuah kekuatan tidak terkalahkan. Apalagi jika ekosistem bisnis yang ada berada dalam jalur sistem pemerintahan keumatan yang memang menjadikan ummat sebagai target layanan sistem pemerintahan tersebut. Akan semakin berjayalah bisnis yang dijalankan oleh pengusaha muslim. Aliran profit yang mereka terima tiap tahun tentunya akan mengalir kembali kepada ummat dalam bentuk Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf serta terus akan berputar dan bergulir sehingga ummat tidak akan ada lagi yang menyandang status mustahik. Siap menjadi bagian dari penggeraknya?

 

Dapatkan buku Find The Amazing You dengan klik link ini : Klik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top