bumn

STRATEGI MENGELOLA BUMN DALAM ISLAM

Belum lama ini banyak beredar di media internet BUMN-BUMN Indonesia yang mengalami kerugian. Fantastisnya nilai kerugian per BUMN mulai dari ratusan milyar rupiah hingga menyentuh angka trilyunan rupiah. Di antara banyak BUMN yang merugi, yang memiliki nama besar namun saat ini sedang limbung menghadapi kerugian adalah Garuda Indonesia, BUMN Karya, Pertamina, PT Pertani, Perum Bulog, PT Sang Hyang Seri, Krakatau Steel dan lain sebagainya. Saya tidak akan membahas apa penyebab kerugiannya, tapi saya akan fokus bagaimana seharusnya negara mengelolanya. Yuks lanjut.

Sebelum membahas aspek strateginya, saya akan membawa kamu ke pondasi awal bahwa keberadaan BUMN ini dalam pandangan Sistem Ekonomi Islam seharusnya tidak ada. Loh kenapa tidak ada? Ya karena dalam Islam semua hal strategis untuk kepentingan umum masyarakat banyak tidak boleh dijadikan komersil dan pos meraup sebanyak-banyaknya keuntungan. Dalam hadits telah disebutkan aspek umum dan bisa dinikmati banyak orang tidak boleh dikuasai segelintir orang : “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Padang rumput diibaratkan hasil-hasil hutan dan perkebunan milik umum, air ya misalnya mata air pegunungan dan pengeboran mata air, sedangkan api adalah yang berhubungan dengan energi panas seperti minyak bumi, sistem panel cahaya matahari maupun batu bara dan gas bumi. Semua itu haruslah dikuasai negara dan dinikmati seluruh masyarakat umum.

Yang berhubungan kepentingan umum seperti transportasi umum, jalan, industry berat seperti baja hingga persenjataan itu haruslah secara spirit hanya untuk melayani kepentingan masyarakat juga negara. Beda dengan strategi BUMN yang ada di Indonesia, semua BUMN dijadikan sapi perah pengampu kepentingan para kapitalis yang serakah. Sehingga mereka bagi-bagi kue kekuasaan BUMN yang ditujukan hanya untuk kepentingan golongan dan partainya.

Berbeda dengan pengelolaan sumber daya dalam sistem Islam hingga pelayanan sektor publik secara spirit awal, semata-mata ditujukan untuk kenyamanan dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara. Dan tujuan memberikan kenyamanan serta kesejahteraan bagi warga negara tidak akan diperoleh jika pondasi awal pengelolaan hanya ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Maka tinggalkan pola pikir kapitalis yang memandang kepentingan umum dikuasai segelintir orang dan untuk kepentingan pribadi serta kelompok. Mari Kembali kepada pola pikir Islam yang menjadikan segala aktivitas semata-mata hanya untuk ibadah kepada Alloh SWT

 

Dapatkan buku Find The Amazing You dengan klik link ini : Klik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top